Vaksinasi Flu, Perlukah Dilakukan Di Tengah Pandemi Covid

Harus diingat, perlu waktu untuk tubuh kita membentuk antibodi sehingga siapa pun yang sudah divaksinasi tidak boleh meninggalkan protokol kesehatan , sampai pandemi dinyatakan berakhir. Selain upaya mengukseskan program vaksinasi, pemerintah juga selalu mengingatkan pentingnya disiplin protokol kesehatan serta mengintensifkan testing, tracing, dan remedy. Jakarta – Pemerintah selalu memastikan faktor keamanan, kualitas, dan efikasi vaksin Covid-19 yang dipakai di Tanah Air sehingga tidak perlu ada keraguan bagi masyarakat untuk mengikuti program vaksinasi. Demikian disampaikan Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, saat menyaksikan kedatangan 8 juta bahan baku vaksin Covid-19 Sinovac di Bandara Soekarno Hatta, 25 Mei 2021.

Vaksin dapat menangani Covid

Kementerian Kesehatan Singapura melaporkan, tidak ada kematian yang terkait dengan vaksinasi influenza di negara tersebut. Berkaca dari negara tetangga seperti Thailand dan Kamboja, keduanya sepakat menolak penggunaan vaksin Sinovac yang dibanggakan pemerintah Indonesia. Kedua negara tersebut beranggapan bahwa Sinovac hanya digunakan pada negara-negara berkembang saja. Oleh karenanya, jangan heran jika timbul pandangan bahwa Sinovac merupakan vaksin yang belum rampung sepenuhnya. Publik lebih memilih untuk bersabar dan menunggu vaksin hasil buatan Indonesia, vaksin Merah Putih. Berusaha menghindar dari orang yang terinfeksi membantu Anda tidak terkena infeksi serupa.

Setelah dirundung kecemasan lebih dari sembilan bulan, perlahan namun pasti, pemerintah Indonesia semakin dekat dengan upaya vaksinasi. Akan tetapi, alih-alih memenuhi kehadirannya dengan optimisme, publik justru mewarnainya dengan ragam kekhawatiran. Tujuan dari vaksin adalah membantu tubuh belajar bagaimana bentuk virus tanpa menyebabkan tubuh terasa sakit. Sehingga, sistem imun tubuh dapat menyiapkan dirinya untuk melawan virus yang akan menginfeksi. Virus corona penyebab COVID-19 menyebar dengan cara yang sama yaitu dari satu orang ke orang yang lain melalui droplet.

Saat ini, Singapura tengah menjalani periode pembatasan sosial ketat untuk menekan penyebaran COVID-19. Beberapa aturan yang berlaku adalah acara kumpul-kumpul hanya boleh dilakukan dua orang, pusat perbelanjaan harus tutup, dan masyarakat dianjurkan bekerja dari rumah. Hingga tahun 2020, Kementerian Kesehatan telah membelanjakan Rp 637,3 miliar, untuk pengadaan vaksin. Untuk pemenuhan alat pendukung program vaksinasi Covid-19, Kemenkeu telah membelanjakan mulai dari jarum suntik, alkohol swab, dan security field sebanyak Rp 277,45 miliar. Tarik-menarik pendapat di atas disebabkan karena mempertentangkan hak privat dan hak publik. Di satu sisi, hak individu untuk menolak setiap intervensi medis dijunjung tinggi.

Diharapkan program vaksinasi dapat membantu mengatasi bahkan memutus kasus COVID-19. Sayangnya, banyak informasi keliru seputar virus dan vaksin COVID-19 yang beredar di dunia maya. Misinformasi di tengah situasi krisis kesehatan bisa menyebabkan paranoia, rasa takut, dan stigma, bahkan menyebabkan orang lain tidak terlindungi atau lebih rentan terhadap virus. Selalu rujuk fakta dan saran dari sumber-sumber tepercaya, seperti otoritas kesehatan, PBB,UNICEF, dan WHO. Ada pula vaksin COVID-19 yang dikembangkan menggunakan pendekatan baru yang disebut vaksin messenger RNA, atau mRNA. Berbeda dengan penyuntikan antigen , vaksin mRNA memberikan kode genetik yang dibutuhkan oleh sistem kekebalan tubuh kita untuk menghasilkan antigen sendiri.