Apa Vaksin Covid Yang Paling Baik

Riset juga membuktikan vaksin COVID-19 mampu mencegah kematian dan mencegah sakit parah yang berujung perawatan gawat darurat. Beredar informasi di masyarakat yang menyebutkan bahwa vaksin COVID-19 yang akan digunakan dalam program vaksinasi hanyalah untuk uji klinis. Faktanya, vaksin ini bukanlah untuk uji klinis dan telah memperoleh izin penggunaan dari BPOM. Selain itu, masyarakat diingatkan untuk tidak memilih jenis vaksin karena vaksin yang terbaik adalah vaksin yang tersedia dan sudah boleh dipergunakan.

Bisa dikatakan, hampir mustahil untuk negara-negara miskin, apalagi tanpa bantuan donor yang signifikan. “Untungnya, semua vaksin ini tampaknya melindungi kita dari penyakit parah,” kata Dr. Monica Gandhi dari Universitas California, San Francisco. Kecuali vaksin AstraZeneca, yang dalam analisis pertama terhadap 2.000 orang di Afrika Selatan, vaksin Covid ini tidak mampu memberi perlindungan dari Covid-19 varian baru, baik yang ringan maupun sedang. Kennedy mengatakan bahwa setiap percobaan hanya dapat memberikan gambaran singkat tentang perlindungan terhadap varian virus yang dominan pada waktu atau tempat itu.

Apa vaksin covid yang paling baik

Melansir New York Times, protein S yang ada di adenovirus dapat memasuki sel tubuh, tetapi tidak bisa replikasi di dalamnya. Ini salah satu alasan mengapa pemerintah Indonesia memilih untuk menggunakan Sinovac sejak awal. Selain sudah diujikan di beberapa negara lain, distribusi vaksin ini lebih memungkinkan untuk kondisi Indonesia.

Tanpa bukti hasil uji klinis fase 1 dan 2 yang baik, maka uji klinis fase three tidak dapat dilaksanakan. “Dengan diterbitkannya EUL, kita yakini bahwa WHO memastikan vaksin Sinovac telah memenuhi standar internasional untuk keamanan, efikasi, dan pembuatan. Dan berkhasiat atau mempunya dampak melindungi dan menyelamatkan nyawa,” papar Budi. Masyarakat pun diminta tidak perlu khawatir dengan berbagai jenis vaksin karena semua jenis vaksin baik untuk mencegah penularan COVID-19 dan telah melalui uji kualitas, keamanan, dan efikasi. Dokter Iqbal menilai, memperpanjang jarak vaksin COVID-19 pertama dan kedua menjadi 28 hari memang memiliki sisi negatif. Salah satunya, menurut dia, dosis pertama pada sebagian orang mungkin belum sepenuhnya membentuk antibodi yang kuat untuk melawan virus corona.

Vaksin AstraZeneca/Oxford bekerja seperti inokulasi tradisional dimana protein lonjakan virus disuntikkan ke dalam tubuh sehingga sistem kekebalan membangun respons jika virus yang sebenarnya masuk. Sementara itu, perusahaan bioteknologi ini mengatakan akan memasuki tahap akhir uji coba manusia untuk vaksin COVID-19 pada 27 Juli. “Vaksin dapat dibuat komersial pada awal tahun depan,” kata Shabir Madhi, profesor vaksin di Universitas Witwatersrand di Johannesburg, yang memimpin uji klinis di Afrika Selatan. Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa jarak penyuntikan dosis satu dan kedua bergantung pada jenis vaksin yang diterima pertama kali. Perusahaan pengembangan vaksin yang berbasis di AS yakni Novavax sedang mengembangkan kandidat vaksin virus korona yang disebut NVX-CoV2373.

Adapun kabar vaksinasi ini sebelumnya juga disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Ia mengatakan realisasi vaksinasi di tanah air menempatkan Indonesia dalam negara di peringkat eight terbesar yang sudah melakukan vaksinasi. Seperti yang dilansir Sky News, berikut adalah perbandingan kandidat vaksin Covid-19 dari Moderna, Pfizer, dan AstraZeneca/Oxford. Vaksin dari Universitas Oxford/AstraZeneca mengumumkan hasil fase ketiga pada 23 November lalu.