Vaksin Pfizer Dan Astrazeneca Efektif Untuk Varian Baru Covid

Dia menyebut pemerintah terus berupaya mengatasi berbagai kemungkinan hasil terburuk yang bisa terjadi di masa mendatang. “Yang saat ini justru menjadi tantangan menurut dr. Nadia adalah soal ketersediaan vaksin. Dengan adanya lonjakan kasus, membuat negara produsen vaksin ingin mengutamakan lebih dulu penggunaan vaksin untuk masyarakatnya sendiri,” tambah beliau. Vaksin itu adalah vaksin Pfizer/BioNTech, AstraZeneca, Moderna, Johnson & Johnson, serta vaksin buatan China Sinopharm.

Sebagai informasi, Sinovac adalah perusahaan farmasi yang berdiri sejak tahun 2001 lalu dan telah berhasil memproduksi enam vaksin untuk manusia dan satu vaksin untuk hewan. Yaitu, vaksin hepatitis A dan B, influenza H5N1 , influenza H1N1 , vaksin gondok, dan vaksin rabies anjing. Beberapa cara untuk meningkatkan daya tahan tubuh adalah mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, mengelola stres dengan baik, serta beristirahat yang cukup.

“Selain juga jaminan akses vaksin yang murah, dan equitable untuk seluruh masyarakat. Proses regulasi harus cepat dan soal keamanan vaksin tidak ada kompromi sama sekali. Vaksin benar-benar harus aman sebelum digunakan,” tegasnya. “Setiap vaksin punya efektivitas yang berbeda-beda. Namun, vaksin tidak akan mendapat izin penggunaan atau peredaran jika efektivitasnya tidak memenuhi syarat dan standar WHO,” ujarnya. Keberadaan vaksin yang aman dan efektif sangat penting dan diharapkan para penyintas COVID-19 yang dirundung ketakutan ketika divonis positif dan harus menjalani perawatan intensif. tentunya, kehadiran vaksin menjadi hal yang important karena sejauh ini belum ada obat untuk COVID-19. Beberapa waktu ini ada laporan sementara bahwa salah satu vaksin Covid-19 yang efektivitasnya disebut lebih dari 90% dalam tujuh hari evaluasi sesudah penyuntikan kedua.

“Dari WHO menetapkan syarat minimal efikasi atau efektivitas vaksin COVID-19 itu 50% sudah bagus. Tetapi vaksin yang efektivitasnya 90%, 80% atau bahkan 60 atau 70% pun pada masa pandemi ini, dampaknya sangat terasa dan sangat penting. Karena sampai sekarang kita belum punya vaksin atau obat untuk COVID-19”, tambahnya. Menurut dr. Dirga, profil keamanan dari proses uji klinik seluruh merek vaksin COVID-19 dilakukan dengan sangat baik. Sehingga tidak ada efek samping yang sangat serius sejauh uji klinik dilakukan.

Setelah mendapatkan vaksin, Anda bisa melakukan tes serologis untuk melihat apakah tubuh Anda sudah membentuk antibodi atau kekebalan terhadap virus Corona. Namun, tes antibodi ini tidak diwajibkan untuk dilakukan pada populasi umum, melainkan hanya untuk peserta penelitian atau kelompok tertentu. Studi yang dilakukan di Chile meneliti efektivitas vaksin Coronavac di antara 10,5 juta orang.

Dengan meniru, vaksin ‘mengajarkan’ sistem kekebalan tubuh kita untuk secara spesifik bereaksi dengan cepat dan efektif melawan agen penyakit. Menjawab hal tersebut, vaksinolog dan juga dokter spesialis penyakit dalam, Dirga Sakti Rambe menegaskan bahwa mutasi virus corona tidak akan mempengaruhi efektivitas vaksin Covid-19. Setidaknya ada tiga hal penting yang perlu diketahui dari hasil uji klinis ini nantinya. Artinya, dari mereka yang dapat vaksin akan dilihat seberapa besar yang benar-benar terlindungi dan tidak jatuh sakit. Kalau efektivitasnya 70%, artinya ada 30% penduduk yang walaupun sudah divaksin, tetap mungkin tertular penyakit ini. Kalau efektivitasnya 50%, tentu separuh akan terlindungi dan separuh lagi tidak.

Apa vaksin covid efektif

Para peneliti tengah mempelajari vaksin COVID-19 dan kaitannya dengan ibu menyusui, tetapi informasi yang tersedia saat ini masih terbatas. Sesuai saran WHO, vaksin dapat ditawarkan kepada ibu menyusui yang juga termasuk kelompok prioritas vaksinasi—contohnya, ibu menyusui yang juga seorang tenaga kesehatan. Pemberian ASI dapat dilanjutkan setelah vaksinasi; ASI tetap merupakan salah satu cara terbaik untuk melindungi anak dari berbagai macam penyakit dan membantu mereka agar tetap sehat. Ya, meskipun pengembangan vaksin COVID-19 diupayakan berjalan secepat mungkin, vaksin tetap harus melalui serangkaian uji klinis yang ketat untuk membuktikan kesesuaiannya dengan standar internasional dalam hal keamanan dan efektivitas vaksin. Hanya vaksin yang dinilai telah memenuhi standarlah yang akan mendapatkan persetujuan WHO dan otoritas nasional.